Kerja sama yang baik akan menumbuhkan kepercayaan terhadap mitra bisni kita

Rabu, 20 Maret 2013



MENULIS ITU GAMPANG GUNAKAN RUMUS 5W + 1 H


Begitu banyak jenis tulisan kalau kita mau menggolong-golongkannya. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada berita hardnews dan analisa. Ada pula biografi, esai, artikel, skrip radio dan teve, editorial, weblog, surat cinta dan segudang lainnya. Jangan lupa, ada yang berkaitan dengan bisnis, seperti surat penawaran, minutes meeting, dan ribuan jenis business letter.
Lupakan dulu kategorisasi yang memusingkan kepala. Karena sebagian besar jenis tulisan bisa dikatakan baik dan benar bila memenuhi rumus baku yang sama. Yakni 5W + 1H. Itulah rumus sakti yang menjadi pegangan saya ketika menjadi jurnalis di Bisnis Indonesia, majalah PROSPEK dan terakhir di majalah SWA (ya, profesi awal saya adalah jurnalis, kurang lebih lima tahun saya menjalaninya dengan penuh suka cita).
Rumus macam apa itu? Sederhana sekali :
W1 = What
W2 = Who
W3 = When
W4 = Where
W5 = Why
H = How

WHAT adalah apa yang akan kita tulis. Tema apa yang ingin kita ungkapkan. Hal apa yang ingin kita tuangkan dalam tulisan.
What ini bisa apa saja. Bisa soal “Lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai”, “Situs porno diharamkan dan akan diblokir Pemerintah”, “Bagaimana bisa menjadi kaya, sukses sekaligus mulia?” atau topik yang sedang hot di dunia gosip: “Apakah anak kandung Mayangsari juga anak kandung Bambang Tri?”.
What yang kita tentukan ini akan menjadi dasar untuk 4W lainnya. Mari kita ambil topik mengenai Mayangsari saja. Mumpung masih hangat.
WHO adalah siapa tokoh yang menjadi tokoh utama di WHAT. Dalam studi kasus ini, who-nya minimal bisa tiga tokoh: Mayangsari, Bambang Trihatmodjo, dan sang anak yang baru berusia dua tahun: Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Yang pertama dan kedua sudah amat terkenal. Sosok mereka sudah tertulis di mana-mana.
Meski Who is Mayangsari sudah banyak yang tahu, masih banyak sisi lain yang menarik untuk dieksplorasi. Bahkan kebungkamannya mengenai tes DNA anaknya, menjadikan sosoknya makin layak tulis, sampai-sampai bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya secara diam-diam dan bagaimana ia menjenguk ibunya di rumah sakit dijadikan bahan pemberitaan. Suasananya hati Mayangsari digali dengan baik sehingga makin menegaskan sosoknya dalam menghadapi isu anak kandungnya.
Buat kita, yang tidak perlu jadi wartawan untuk bisa menulis sebaik mereka, Who harus menjadi bagian yang berkaitan dengan What. Kalau kita ketemu Who yang tidak dikenal target pembaca kita, maka kita harus mengupasnya dengan baik sehingga jelas keterkaitannya dengan What.
WHEN adalah waktu kejadian WHAT. Ini yang sering diabaikan oleh banyak penulis pemula. Kapan kejadiannya akan memberi tambahan informasi dan imajinasi pembacanya.
WHERE adalah tempat kejadian WHAT. Meski kelihatannya sepele, tempat kejadian ini punya makna. Ketika Jose Mourinho berkunjung ke Milan tiga hari lalu misalnya, segera merebak isu ia mau pindah ke Inter Milan. Coba kalau ia perginya ke Bali, kemungkinan besar tak akan ada isu itu.
WHY adalah mengapa terjadi WHAT. Ini yang paling menarik karena bisa dikupas dari berbagai sudut. “Permintaan tes DNA keluarga mantan presiden Soeharto terhadap anak Mayangsari” bisa dikupas dari sisi hukum, keluarga maupun pribadi. Bahkan kalau mau diseret jauh hingga ke dunia mistis, misalnya minta diteropong oleh ahli nujum.
HOW adalah bagaimana WHAT terjadi, bagaimana prosesnya, lika-likunya, dan sejenisnya.
Yang jelas, dengan 5W+1H, tulisan kita dari segi kelengkapan informasi – sekali lagi: kelengkapan informasi — tidak akan mengecewakan pembaca kita.
Kalau ada yang kecewa itu biasanya karena disebabkan oleh kekurangtepatan kita mengungkap WHY dan HOW-nya di mata pembaca.
Jangan salah faham: rumus ini bukan hanya untuk nulis artikel, esai atau tulisan serius lain. Bahkan surat lamaran kerja, undangan meeting, surat cinta bahkan diskusi pendek-pendek di berbagai milis, rumus ini amat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan kekuranglengkapan informasi.
Cukupkah berbekal rumus baku di atas? Tidak. Bagi mereka yang ingin menulis dan mendapat respon pembacanya, ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dari rumus
5W+1H. Yakni Daya Tarik Tulisan”.
================================================

PIRAMIDA TERBALIK & 5W + 1H


Mengapa kedua hal ini disebut sebagai dasar menulis bagi wartawan. Kedua teknik ini juga bisa, dan memang efektif, dipakai oleh penulis non-wartawan, termasuk bloger.
Salah satu ciri khas tulisan jurnalistik, seperti berita di suratkabar, adalah padat dan informatif, bukan bertele-tele apalagi berputar-putar. Sebab itulah dibuat formula “piramida terbalik” dan rumus 5W+1H; dengan begitu pembaca bisa memahami tulisan dengan lebih mudah.
menulis itu [bisa] mudah; blog berita; jarar siahaan
Tapi jangan mengira bahwa setiap wartawan otomatis sudah menguasai kedua teknik ini. Faktanya, banyak wartawan — baik yang bertugas meliput di lapangan [reporter] maupun tukang edit di kantor [redaktur] — yang tidak tahu apa itu piramida terbalik dan 5W+1H. Untuk membuktikannya, setelah membaca artikel ini, silakan buka koran-koran lokal di daerahmu dan lihatlah sendiri.
Piramida terbalik
Artikel berbentuk berita memiliki struktur unik: Inti informasi ditulis pada alinea awal [disebut sebagai "lead" atau "teras berita"; biasanya satu hingga dua paragraf], data-data penting menyusul pada alinea-alinea selanjutnya, lalu penjelasan tambahan, dan diakhiri dengan informasi lain yang bukan bersifat informasi utama. Inilah yang disebut sebagai piramida terbalik.
Bagi pembaca sebuah artikel, piramida terbalik memudahkannya menangkap inti cerita, sebab informasi yang paling pokok langsung dibeberkan sejak alinea-alinea awal.
Sementara bagi redaktur di meja redaksi, piramida terbalik juga memberi keuntungan. Yaitu ketika sebuah artikel harus diperpendek karena kolom terbatas sementara waktu [deadline] sudah mepet, maka redaktur tinggal memotong bagian bawah. Kalimat-kalimat yang dibuang itu tidak akan mengurangi makna artikel, asalkan ditulis dalam bentuk piramida terbalik.

KONSEP PIRAMIDA TERBALIK
SANGAT PERLU
PERLU
KURANG PERLU
SEMAKIN TIDAK PERLU


5W+1H
Suatu ketika aku iseng-iseng bertanya pada seorang wartawan yang sudah 20 tahun lebih menulis di sebuah koran besar, dan sering disebut sebagai wartawan senior.
“Apa yang dimaksud dengan nilai berita?” tanyaku.
“5W dan 1H,” jawabnya.
Aku kaget bukan kepalang. Karena, jawabannya salah.
5W+1H adalah unsur berita, bukan nilai berita. Sementara nilai berita adalah elemen-elemen yang membuat sebuah peristiwa atau percakapan layak disebut sebagai berita — hal ini akan kutulis pada kesempatan lain. Sekarang aku hanya ingin menulis soal unsur berita 5W+1H.
Itu adalah singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Semua unsur inilah yang harus terkandung dalam sebuah artikel biasa atau berita biasa. Aku sengaja memakai istilah “artikel biasa” karena dalam karya tulis bentuk lain, seperti feature dan esai, tidak semua unsur 5W+1H harus dipenuhi.
Memasukkan keenam unsur ini ke dalam tulisan adalah mudah, sama saja ketika kita berbicara secara lisan dengan seseorang. Misalkan engkau baru tiba di kantor lalu bercerita pada rekanmu tentang kecelakaan yang kaulihat di jalan.
“Waduh, lo tahu nggak, tadi tuh, sekitar pukul 7 [KAPAN], dekat lampu merah Jalan SM Raja [DI MANA], ada kecelakaan langsung terjadi di depan mata gua. Satu mobil sedan nabrak motor [APA]. Sopirnya [SIAPA] nggak apa-apa, tapi yang punya motor [SIAPA] tewas di tempat. Yang salah sih si korban. Gua sempat lihat, dia nggak peduli lampu merah, malah dia tancap gas motornya. Nah, waktu menerobos lampu merah itu, mobil sedan dari arah kanan juga sedang kencang, dia ketabrak dan jatuh, kepalanya berdarah [BAGAIMANA]. Kasihan banget. Gua sempat berhentikan motor gua, lalu bantu geser motor korban. Nggak lama polisi datang. Menurut polisi, ternyata motor dia tuh lagi putus rem [MENGAPA]. Padahal tadi sempat gua kira dia sengaja ngebut.”
Cerita di atas sudah cukup jelas. Kawanmu pasti paham apa sebenarnya inti dari ceritamu. Tapi coba bayangkan apabila salah satu unsur cerita itu tidak kausebutkan, misalnya unsur DI MANA, pasti kawanmu akan bertanya-tanya, “Lo gimana sih, dari tadi asyik cerita tabrakan tapi nggak bilang di mana tempat kejadiannya.”
[www.blogberita.com]
================================================

MENULIS ITU GAMPANG

Point Penting Dalam Menulis Kreatif
oleh Omjay
Sering saya ditanya oleh teman-teman, kok bisa pak wijaya aktif menulis setiap hari?. Lalu saya jawab bahwa menulis itu sama halnya kita makan. Kita membutuhkan makanan setiap harinya. Jadi kalau nggak nulis itu sama artinya nggak makan. Begitu kata saya kepada teman-teman sambil bercanda. hehehehe…3x.

Namun, ada banyak guru yang banyak menginspirasi saya menulis. Terutama menulis di blog. Mas Rudy dari VHR Media mengungkapkan bahwa kekuatan para blogger adalah tulisannya yang mencakup hal-hal yang tidak dimuat oleh media-media umum, dan tulisan mereka yang tidak dikemas dengan gaya ilmiah. Rata-rata mereka menulis dengan hatinya. Inilah yang membuat mereka beda dari media arus utama. Terus menulis tanpa ada beban, dan tak dibayar pula. mereka menulis dengan hati, dan membuat mereka menjadi kreatif. Seperti anak kecil yang bergaya di ats mobil ketika di foto.
Oleh karena itu, point terpenting bagi para blogger untuk menulis kreatif adalah menulis harus dengan hati. Artinya mengalir begitu saja seiring dengan irama hati yang menyatu dalam jari jemari tangan yang dikendalikan oleh otak dan dicerna oleh hati. Bila kita menulis dengan hati, maka akan keluarlah tulisan-tulisan kreatif kita itu.
Ada beberapa poin penting dalam menulis kreatif yang pernah saya dapatkan dalam pelatihan blogging yang diselenggarakan oleh VHR Media. Poin-poin penting itu antara lain :
  • Menulis harus tetap berjalan dalam kondisi apapun, karena penulis adalah profesi yang melekat apapun profesi utamanya. Bila anda mempunyai profesi sebagai guru seperti saya, maka menulislah dari sisi pendidikan. Menulislah tentang apa-apa yang anda ketahui tentang dunia pendidikan. Jangan hiraukan pembaca anda bila masih sedikit.
  • Menulis harus sesuatu yang memang kita kuasai, dan memang kita inginkan untuk dituliskan. Jangan menulis sesuatu yang tidak kita kuasai. Misalnya bila anda seorang guru, maka menulislah tentang pembelajaran di kelas, masalah belajar, dan lain-lain yang ada hubungannya dengan pendidikan. Jangan menulis sesutu yang anda sendiri tak menguasainya.
  • Penggunaan prinsip 5W+1H (What, Who, Why, Where, When dan How) harus diterapkan dalam tulisan, tidak hanya jurnalis tapi semua penulis. Saya banyak menulis tanpa 5W + 1H terlebih dahulu, hal ini saya lakukan bila ingin membuat tulisan yang langsung ada dalam alam pikiran saya. Tetapi begitu saya baca, ternyata 5w + 1 H tanpa saya sadari telah masuk ke dalam tulisan saya.
  • Menulis tanpa pretensi-tanpa beban, baik buruk tidak masalah, menulislah apa adanya. Karena saya menulis tanpa beban, maka saya merasa enjoy dalam menulis. Semua apa yang saya ketikkan mengalir begitu saja. Secara otomatis, otak dan tangan sudah menyatu dalam membuat tulisan saya menjadi bermakna. Syukur dapat bermanfaat untuk orang banyak.
  • Harus anda sadari bahwa menulis tidak ada bedanya dengan bercakap-cakap. Menulis harus disadari seolah-olah kita sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Ingatlah kita menulis untuk dibaca oleh orang lain, jadi usahakan bahasa yang kita gunakan adalah bahasa yang komunikatif. Terjadi interaksi dua arah  yang membuat pembaca tercerahkan.
  • Seorang Penulis harus suka membaca, sebab tanpa membaca ia akan mengalami apa yang disebut stagnan atau buntu. Saya pernah mengalami hal itu ketika saya tak rajin membaca buku atau karya tulis lainnya. Ternyata dari membaca karya tulis orang lain, justru timbul inspirasi dari bacaan itu. Banyak hal yang saya tuliskan setelah saya banyak membaca. Bukan menyontek loh, tapi membuat sesuatu yang baru dari apa yang telah kita baca.
  • Untuk dapat menulis kreatif dengan baik, anda harus disiplin dalam menulis, alokasikan 2 jam sehari buat menulis, tidak peduli berapa halaman yang jadi. Pokoknya menulis, dan yang paling sulit dari proses menulis itu adalah MEMULAI.
  • Usahakan dalam menulis anda memiliki kreativitas dan intensitas. Sebab anda dituntut untuk membuat sebuah tulisan yang kreatif dengan intensitas yang tinggi. Biasanya tulisan yang memiliki kreativitas dan intensitas tinggi akan enak dibaca dan mudah dipahami.
  • Dalam menulis anda harus dengan jujur mengatakan ini loh tulisan saya dan bukan tulisan orang lain. Dulu, waktu belum kreatif menulis, saya sering copy and paste tulisan orang lain. Tetapi sekarang walaupun tulisan saya masih jelek, saya nggak malu munculin tulisan saya di blog, bahkan dalam publik blog yang lebih luas seperti di kompasiana.com.
  • Terakhir, menulis itu harus memiliki prinsip kelogisan. Jadi segala sesuatu yang kita tulis harus memenuhi unsur kelogisan. Itulah yang saya dapatkan dari mas Rudy sewaktu mengikuti pelatihan blogging. Sebuah pelatihan yang dilaksanakan oleh VHR media beberapa tahun lalu.
Semoga bermanfaat untuk teman-teman blogger. Oleh karena itu, mulai dari sekarang menulislah dengan hati dan gunakan blog sebagai media dalam menuangkan segala ide anda yang cemerlang itu. Jangan ragu untuk memulai, dan menulislah dengan HATI agar kreativitas menulis tetap terjaga. ================================================

Prinsip Jurnalistik Untuk Menulis Sebuah Berita 5W + 1H

Ini adalah prinsip jurnalistik untuk menulis sebuah berita, sangat sederhana  5W & 1H.

What adalah Apa, suatu berita dimuat berdasar APA yang terjadi.

Where adalah Dimana suatu berita dimuat berdasar DIMANA terjadinya.
When adalah Kapan suatu berita dimuat berdasarkan KAPAN terjadinya.

Who adalah Siapa suatu berita dimuat berdasar SIAPA yang mengalami.
Why adalah Mengapa suatu berita dimuat berdasarkan MENGAPA bisa terjadi.

How adalah Bagaimana suatu berita dimuat berdasar BAGAIMANA solusi untuk kejadiannya.

Supaya Berita ini menarik perlu ada kaidah-kaidah dibawah ini :
FOBLA , akronim dari kaedah itu.
Fakta , kejadian atau keadaan, atau pendapat sumber berita yang BENAR, tanpa ada tambahan informasi yang berlebihan.
Obyektif, tidak berat sebelah. Untuk mencari kebenaran, bukan pembelaan.
Berimbang, Sumber berita yang dihasilkan imbang dari berbagai pihak, sehingga ytidak berat sebelah.
Lengkap, Terdiri dari unsur 5W + 1H, yaitu What, Where, When, Who, Why dan How
Akurat, yaitu tidak ada kesalahan informasi yang diberitakan, sehingga jelas dan benar.
================================================

Tips Belajar Menulis
Banyak orang beranggapan bahwa belajar menulis sangat tidak menyenangkan. “Sulit, membosankan, bikin pusing”, itu adalah ungkan dari sejumlah rekan ketika saya tanyakan pandangan mereka tentang belajar menulis.

Namun benarkan demikian?

Tidak juga! Belajar menulis bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan jika dilakukan dengan cara yang benar. Maka sebelum Anda memutuskan untuk mulai berlatih, pertama sekali Anda harus menekankan pada diri Anda bahwa menulis tidak sulit. Jika Anda merasa kesulitan pada awalnya, itu hanya gambaran bahwa Anda belum terlatih.
Lalu bagaimanakah cara agar belajar menulis menjadi sesuatu yang menyenangkan? Menurut saya ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan.

1. Mulailah dengan menuliskan pengalaman Anda. Jelas, akan lebih mudah menuliskan pengalaman melihat sepasang kucing saling mencakar yang Anda lihat langsung kawin daripada membuat tulisan tentang Politik Indonesia. Menuliskan pengalaman sendiri merupakan aktivitas yang menyenangkan, karena Anda memberi ruang bagi ego Anda ketika menulis. Saya yakin Anda tidak akan kehabisan bahan ketika menceritakan pengalaman Anda sendiri. Jadi jika Anda ingin berlatih, maka awali dengan menuliskan hal-hal yang Anda alami. Lalu gunakan sudut pandang orang pertama, dengan menggunakan kata “Aku”, dalam tulisan tersebut.

2. Indahkan sistematika penulisan. Ketika belajar menulis banyak orang yang mengawalinya dengan mengkhawatirkan jika nantinya tulisannya jelek. Namun menurut saya Anda tidak memikirkan seperti tulisan Anda. Anggaplah Anda menulis untuk diri Anda sendiri. Nikmati kesenangan dengan menciptakan karya yang orisinil. Anda akan merasakan sebuah kegairahan ketika Anda berhasil menyelesaikan sebuah karya, meskipun hasilnya tidak sempurna. Pasalnya, mencipta adalah pekerjaan yang menyenangkan.

3. Buatlah tulisan pendek. Bagi para pemula saya menyarankan untuk membuat tulisan pendek dulu. Untuk sementara jangan membuat target yang muluk. Misalnya membuat tulisan 20 lembar. Cobalah membuat tulisan sebanyak 1 lembar, kalau perlu diketik dengan spasi double. Tujuannya agar Anda bisa menyelesaikan sebuah karya. Seperti sudah saya jelaskan di atas, Anda merasa senang ketika Anda berhasil memiliki sebuah karya. Kemampuan membuat tulisan panjang akan terbentuk dengan sendiri jika Anda sudah terbiasa menulis.

4. Tulislah kata atau kalimat yang terlintas dalam pikiran Anda sebagai kalimat pembuka. Biasanya para penulis pemula cenderung menguras pikirannya ketika akan menuliskan kalimat pertama. Namun sebaiknya, tuliskan saja kalimat yang ada dibenak Anda secara sembarang. Kalaupun tidak cocok dengan kalimat selanjutnya tentu bisa dikoreksi. Karena biasanya, setelah menuliskan kalimat pembuka, pikiran Anda akan lebih lancer mengembangkan ide-ide selanjutnya. Tidak percaya? Silahkan Anda buktikan sendiri.

5. Jika ingin membuat tulisan yang agak serius susunlah outline. Outline adalah garis-garis besar membuat struktur tulisan. Outline menuntun kita membuat satu bentuk tulisan. Untuk membuat outline tuliskanlah apa saja yang muncul dalam pikiran Anda secara bebas terkait topik yang hendak Anda bahas. Termasuk hal-hal yang Anda rasa tidak relevan. Setelah itu kumpulkan data-data atau kutipan dari bahan-bahan tertulis yang terkait dengan tulisan Anda. Kemudian tuliskan pandangan Anda secara umum, misalnya “Premanisme tidak boleh dipelihara di republik Indonesia”. Setelah itu dukung pandangan tersebut dengan ide-ide, opini atau data-data yang telah Anda kumpulkan sebelumnya. Setelah itu rangkailah menjadi tulisan utuh.

6. Banyaklah membaca buku. Agar bisa menulis dengan lancar Anda harus sering membaca buku. Setidaknya ada dua alasan. Pertama buku dapat menjadi sumber pengembangan ide-ide baru. Kedua, banyak membaca buku akan juga berarti memperbanyak perbendaharaan istilah atau kata, juga berbagai teknik penulisan.

Jika anda terus berlatih maka dijamin Anda akan semakin lancar menulis, serta menikmatinya. Jadi berlatihlah mulai saat ini.

http://www.konsultasimenulisbuku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53:tips-belajar-menulis&catid=34:tips-menulis-buku&Itemid=12